TABANAN – sightseeingbali.id
Malam Tahun Baru 2026 di Nuanu Creative City,Tabanan, hadirkan perayaan berbeda dari kebanyakan agenda akhir tahun di Pulau Dewata. Ketika banyak perayaan memilih konsep seragam dengan deretan musisi internasional yang sudah akrab di telinga publik, Nuanu justru mengambil langkah lain dengan menempatkan kreativitas lokal sebagai poros utama perayaan.
Pada perayaan kali ini digelar kolaborasi PORTAL x Nuanu diwujudkan dalam sebuah malam pergantian tahun yang sepenuhnya diisi oleh musisi elektronik dan alternatif asal Indonesia. Sebanyak 21 seniman dari berbagai latar praktik kreatif dihadirkan untuk membangun pengalaman kolektif yang menekankan eksplorasi, keberagaman format, serta kekuatan komunitas musik elektronik Tanah Air.
Perayaan ini menegaskan posisi Nuanu Creative City sebagai ruang yang memberi tempat bagi praktik kreatif lokal untuk tumbuh dan berkembang. Tidak sekadar menjadi panggung hiburan, PORTAL x Nuanu dirancang sebagai pertemuan ide, suara, visual, dan interaksi lintas disiplin yang mencerminkan dinamika lanskap musik kontemporer Indonesia saat ini.
Malam Tahun Baru tersebut menjadi penanda komitmen Nuanu dalam mendukung seniman Indonesia melalui kurasi yang berfokus pada praktik kreatif, bukan sekadar popularitas nama atau tren pasar sesaat.

PORTAL x Nuanu berlangsung di dua panggung utama yang diberi nama Detak dan Sumbu. Keduanya menghadirkan nuansa yang kontras namun saling melengkapi dalam satu rangkaian pengalaman.
Panggung Detak dirancang sebagai ruang dengan energi malam yang kuat. Set elektronik dan hybrid mendominasi area ini, digerakkan oleh ritme yang intens dan eksploratif. Detak menjadi ruang bagi penampilan yang menitikberatkan pada permainan beat, tekstur suara elektronik, serta pendekatan hibrida yang memadukan teknologi dan ekspresi musikal.
Sementara itu, panggung Sumbu menawarkan pengalaman yang lebih performatif. Di ruang ini, karya live, vokal, serta eksplorasi audiovisual mendapat porsi utama. Relasi antara suara, visual, dan ruang menjadi fokus, menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya didengar, tetapi juga dirasakan secara visual dan spasial oleh audiens.
Kedua panggung tersebut berlokasi di Block 42, salah satu area multifungsi di Nuanu Creative City yang terus dikembangkan. Block 42 dibangun dari kontainer pengiriman yang didaur ulang, mencerminkan pendekatan berkelanjutan sekaligus eksperimental dalam pengembangan ruang kreatif.
Sepanjang malam, struktur kontainer di Block 42 dihidupkan melalui projection mapping yang dinamis. Visual yang diproyeksikan mengubah area tersebut menjadi lingkungan berlapis yang menyerupai labirin cahaya dan bayangan. Audiens yang berpindah dari satu panggung ke panggung lain tidak hanya mengalami perubahan musik, tetapi juga sensasi visual yang terus berganti.
Perpindahan ruang ini menciptakan kesan seolah audiens melintasi portal-portal visual yang saling terhubung, bukan sekadar berpindah dari satu titik pertunjukan ke titik lainnya. Cahaya, suara, dan arsitektur berpadu membentuk pengalaman imersif yang jarang ditemui dalam perayaan Tahun Baru konvensional.
Ragam penampilan yang disuguhkan sepanjang malam menunjukkan bagaimana musik elektronik Indonesia menemukan resonansinya ketika diberi kepercayaan, konteks yang tepat, serta lingkungan kuratorial yang mendukung. PORTAL x Nuanu tidak membatasi diri pada satu genre atau format tertentu, melainkan membuka ruang bagi berbagai pendekatan kreatif.
Line-up yang dihadirkan mencerminkan spektrum luas praktik musik elektronik dan alternatif Indonesia. Sebanyak 21 seniman tampil dengan format elektronik, live, hybrid, hingga audiovisual. Nama-nama yang terlibat antara lain Asylum Uniform, Bagvs, Big Chun a.k.a. Naken, Dekadenz, Gumatat Gumitit Gospell (live), JayDawn & Wukir Suryadi, Kuntari (organic set), Mairakilla, Non Archive, Raissa Febriani b2b Hatagarah, Verdy Arien b2b Magis, Txetext (live), Madness On Tha Block, Parakuat (live), Alkahfa (hybrid), Ambrukt, Paradata (A/V), Su66en9 (hybrid), PURE! Records, Linda b2b Masagi b2b Masayu, Barbara Pleaser, Temu Gerak, serta Putu Septa ft. Janurangga.
Keberagaman ini memperlihatkan bagaimana musik elektronik di Indonesia tidak berdiri sebagai satu bentuk tunggal, melainkan sebagai ekosistem yang terdiri dari banyak pendekatan, kolaborasi, dan eksperimen lintas disiplin.
CEO Nuanu Creative City, Lev Kroll, menyampaikan bahwa apa yang terjadi pada malam Tahun Baru tersebut menegaskan kembali tujuan utama Nuanu sebagai ruang kreatif. Ia menyoroti kuatnya komunitas kreatif di Indonesia yang terus bertumbuh dan membutuhkan platform yang dapat berkembang bersama para pelakunya.
Sementara itu, perwakilan PORTAL menekankan bahwa musik elektronik Indonesia lahir dari kerja kolektif dan sejak awal tidak pernah berdiri semata sebagai genre musik. Menurutnya, PORTAL x Nuanu menghadirkan pertemuan yang lebih luas, di mana suara berdampingan dengan tari, instalasi multimedia, serta berbagai bentuk ekspresi alternatif lainnya.
Fokus utama acara ini bukan pada genre tertentu, melainkan pada seniman dan praktik kreatif yang membentuk pengalaman malam tersebut. Pendekatan ini membuat PORTAL x Nuanu tidak menjadi formula yang statis atau siklus tertutup, melainkan proses evolusi yang terus bergerak mengikuti dinamika para pelaku di dalamnya.


