CHINA – sightseeingbali.id
Tim seniman Indonesia berhasil meraih Juara III dalam ajang 28th Harbin International Snow Sculpture Competition. Prestasi membanggakan kembali ditorehkan seniman Bali di panggung internasional.
Kompetisi patung salju berskala dunia tersebut berlangsung selama empat hari, mulai 6 hingga 9 Januari 2026, dengan pengumuman pemenang dilakukan pada Jumat malam, 9 Januari 2026 waktu setempat. Indonesia tampil melalui tim yang dimotori Himpunan Seniman Pecatu (HSP) berkolaborasi dengan Bali Talent Artist (BTA).
Karya bertajuk “Dewi Dhawantari” menjadi representasi Indonesia dalam ajang ini. Tema tersebut terinspirasi dari ikon patung Dewi Dhawantari yang dikenal masyarakat, khususnya patung yang berada di kawasan Pantai Batu Belig, Kuta Utara.
Kompetisi ini diikuti sekitar 100 seniman yang tergabung dalam 25 tim dari 13 negara. Indonesia harus bersaing dengan negara-negara yang sudah lama dikenal memiliki tradisi patung salju kuat, seperti Rusia, China, Mongolia, hingga India.
Dalam hasil akhir kompetisi, Indonesia menempati posisi Juara III bersama India dan Mongolia Tim 2. Juara I diraih oleh Rusia, sementara posisi kedua ditempati oleh China dan Mongolia. Capaian ini dinilai istimewa karena menunjukkan peningkatan dibandingkan keikutsertaan Indonesia pada tahun-tahun sebelumnya.
Tim Indonesia diperkuat oleh para pematung asal Bali, yakni I Nyoman Sungada sebagai kapten tim, I Ketut Suaryana, Gede Agus Kurniawan, serta I Gede Agustin Anggara Putra. Mereka didukung oleh I Made Gede Aryate sebagai fotografer tim dan I Wayan Mardina selaku peninjau.
Nyoman Sungada mengungkapkan bahwa capaian Juara III tahun ini menjadi hasil dari perjuangan yang tidak ringan. Menurutnya, kondisi lomba tahun ini jauh lebih menantang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Tema Dewi Dhawantari dipilih karena memiliki tingkat kesulitan tinggi. Sosok dewi dengan banyak tangan, detail jari, ornamen aksesori, serta elemen awan yang menyelimuti patung menuntut ketelitian tinggi dan kerja tim yang solid.
Dalam penilaian lomba, dewan juri mempertimbangkan beberapa aspek utama, di antaranya kesesuaian tema, kreativitas, ekspresi artistik, serta kemampuan teknis peserta dalam mengolah balok salju.
Sebagai kapten tim, Nyoman Sungada menyadari sejak awal bahwa desain tersebut tidak dapat dikerjakan secara setengah-setengah. Seluruh anggota tim dituntut bekerja dengan fokus penuh demi menjaga proporsi dan detail patung tetap presisi.
Selama empat hari kompetisi, tim Indonesia menghabiskan waktu sekitar 30 jam untuk menyelesaikan patung salju berukuran raksasa. Balok salju yang dipahat memiliki tinggi kurang lebih 4 meter dengan diameter sekitar 3 x 3 meter.
Pada hari pertama hingga hari ketiga, tim bekerja sekitar 9 jam setiap harinya. Sementara pada hari terakhir, pengerjaan berlangsung selama kurang lebih 3 jam. Patung bahkan sudah rampung sekitar pukul 11.00 waktu setempat, meski waktu lomba masih tersedia hingga pukul 14.00.
Namun demikian, waktu di lapangan tidak sepenuhnya dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Tahun ini, panitia tidak menyediakan konsumsi siang di area lomba seperti tahun-tahun sebelumnya. Para peserta harus kembali ke hotel untuk makan, yang memakan waktu cukup lama.
Karena dikejar target penyelesaian, pada hari kedua dan ketiga tim Indonesia memilih membawa bekal dari penginapan dan makan di area istirahat arena lomba agar waktu kerja tidak banyak terbuang.
Selain tantangan teknis, cuaca ekstrem Harbin menjadi ujian tersendiri. Hari kedua lomba menjadi fase terberat ketika suhu turun hingga minus 26 derajat Celsius. Kondisi tersebut memaksa tim untuk beradaptasi dengan mengenakan lapisan pakaian tambahan, mengganti sarung tangan secara berkala, serta menjaga kondisi fisik agar tetap prima.
Pada hari terakhir, cuaca relatif lebih bersahabat dengan suhu sekitar minus 20 derajat di pagi hari dan meningkat hingga minus 12 derajat pada sore hari. Kondisi tersebut dimanfaatkan tim untuk memaksimalkan pengerjaan detail patung.
Di balik keberhasilan tersebut, tersimpan proses persiapan panjang hampir tiga bulan. Sejak menerima undangan kompetisi pada Oktober 2025, tim mulai melakukan pencarian ide, pembuatan miniatur, latihan teknik, hingga penggalangan pendanaan.
Pemilihan tema Dewi Dhawantari juga melalui proses yang tidak singkat. Awalnya, tim sempat mengalami kebuntuan ide hingga akhirnya teringat kembali pada patung Dewi Dhawantari di Pantai Batu Belig, yang miniatur awalnya pernah dibuat sendiri oleh Nyoman Sungada dan masih tersimpan di workshop miliknya.
Setelah tema ditetapkan, strategi kerja dibagi secara rinci. Sungada fokus pada pembentukan struktur utama patung, sementara anggota lain mengerjakan bagian-bagian besar. Setelah bentuk dasar selesai, pengerjaan detail seperti tangan, jari, dan ornamen dilakukan secara bertahap.
Tim yang dimotori Nyoman Sungada bukan pendatang baru di Harbin. Mereka mulai mengikuti kompetisi ini sejak 2013, sempat terhenti akibat pandemi Covid-19, dan kembali aktif sejak 2023. Jika dihitung, ini merupakan kali keempat mereka meraih Juara III di Harbin.
Selain itu, tim ini juga telah mengoleksi berbagai penghargaan internasional lain, termasuk Best Skill dan Best Commemorative Prize, serta pernah meraih juara pertama dalam kompetisi serupa di Jepang.
Bagi Sungada, keikutsertaan dalam ajang internasional bukan semata mengejar piala, tetapi juga sebagai sarana belajar lintas budaya dan memperkenalkan Bali ke dunia internasional.
Menjawab pertanyaan tentang bagaimana seniman Bali mampu memahat salju, Sungada menjelaskan bahwa pada masa awal mengikuti lomba, timnya berlatih di dalam freezer berukuran besar. Latihan tersebut bertujuan untuk membiasakan tubuh dengan suhu dingin sekaligus menguji perlengkapan yang digunakan.
Untuk teknik memahat, latihan dilakukan menggunakan styrofoam. Dari miniatur tersebut, tim belajar memperbesar bentuk, mengatur proporsi, serta menentukan urutan pengerjaan agar patung tidak runtuh.
Ke depan, Sungada berharap kiprah seniman Bali di ajang patung salju internasional dapat terus berlanjut dengan dukungan yang lebih kuat.
Ia juga menyebut bahwa sebelum keberangkatan ke Harbin, tim sempat beraudiensi dengan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan mendapat dukungan dana pribadi sebesar Rp 50 juta.
Dukungan tersebut diharapkan dapat menjadi awal perhatian yang lebih berkelanjutan agar seniman Indonesia terus mampu membawa nama bangsa di panggung seni dunia. (SSB)


