MANGUPURA – sightseeingbali.id
Kawasan Pantai Kedonganan di Kabupaten Badung terus berkembang sebagai salah satu pusat wisata kuliner yang ramai dikunjungi wisatawan. Beragam usaha kuliner tumbuh dan menghadirkan berbagai konsep baru untuk memenuhi kebutuhan pengunjung yang datang dari berbagai daerah maupun negara.
Selama ini, Kedonganan identik dengan deretan restoran dan kafe yang menyajikan hidangan laut segar. Citra tersebut telah melekat kuat dan menjadi salah satu daya tarik utama kawasan pesisir yang berada di selatan Pulau Bali tersebut.
Namun di tengah dominasi kuliner seafood, hadir sebuah konsep yang menawarkan pengalaman berbeda. Lumira Kafe memperkenalkan konsep mix dining, yaitu perpaduan berbagai jenis hidangan dalam satu tempat yang memungkinkan pengunjung menikmati menu Asia, Western, hingga seafood secara bersamaan.
Konsep tersebut dikembangkan untuk memberikan lebih banyak pilihan kepada wisatawan yang berkunjung ke Kedonganan. Selain menikmati sajian laut yang menjadi ciri khas kawasan tersebut, pengunjung juga dapat memilih berbagai menu internasional sesuai selera masing-masing.
Ketua Kelompok Lumira Kafe, Komang Gede Jaya Kusuma, menjelaskan bahwa sektor kuliner saat ini memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kedonganan. Kehadiran berbagai usaha kuliner dinilai mampu mendukung aktivitas pariwisata sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi warga sekitar.
Menurutnya, seluruh unit kafe yang beroperasi di kawasan Kedonganan merupakan aset milik Desa Adat Kedonganan. Pengelolaannya dilakukan oleh masing-masing banjar yang mendapatkan hak untuk mengelola sejumlah unit usaha melalui kelompok masyarakat dengan dukungan sistem manajemen profesional.
Ia menyebutkan bahwa operasional Lumira Kafe dijalankan melalui mekanisme kerja sama yang telah disepakati bersama. “Skema tersebut bertujuan untuk memaksimalkan pemanfaatan aset desa adat sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas kepada masyarakat,” katanya.
Sementara itu, perwakilan Manajemen Lumira Kafe, Raka Widiantara, mengungkapkan bahwa konsep mix dining sengaja dirancang untuk menghadirkan alternatif baru bagi wisatawan yang datang ke Kedonganan.
Menurutnya, tidak semua wisatawan memiliki preferensi makanan yang sama. Karena itu, menghadirkan pilihan menu yang lebih beragam dinilai menjadi langkah penting untuk menjangkau lebih banyak segmen pasar.
“Melalui konsep tersebut, pengunjung dapat menikmati berbagai hidangan mulai dari seafood khas Kedonganan hingga aneka menu internasional seperti pasta, steak, pizza, dan spaghetti dalam satu lokasi yang sama,” ucapnya.
Raka menjelaskan bahwa strategi tersebut juga mempertimbangkan karakter wisatawan mancanegara yang berasal dari berbagai latar belakang budaya dan kebiasaan kuliner. Sebagian wisatawan asing belum tentu terbiasa dengan cita rasa makanan Indonesia yang kaya rempah dan memiliki tingkat kepedasan tertentu.
Meski demikian, Lumira tetap mempertahankan kuliner khas Bali sebagai bagian penting dari identitas yang ingin diperkenalkan kepada wisatawan. Kehadiran menu internasional tidak menggantikan makanan lokal, melainkan menjadi pelengkap yang memperluas pilihan bagi para tamu.
Dalam pengembangan bisnisnya, Lumira Kafe tidak hanya menargetkan wisatawan lokal, tetapi juga membidik pasar internasional. Wisatawan asal Italia dan India menjadi salah satu kelompok yang masuk dalam sasaran pengembangan pasar.
Selain itu, Lumira juga berupaya menjangkau berbagai segmen pengunjung lainnya, mulai dari keluarga, kalangan pelajar, hingga pasangan yang ingin menikmati suasana makan malam di tepi pantai. Untuk memberikan pengalaman yang lebih berkesan, pihak manajemen menghadirkan program romantic dinner yang dirancang khusus bagi pasangan yang ingin menikmati suasana bersantap dengan nuansa eksklusif di kawasan pantai Kedonganan.
Program tersebut menjadi salah satu upaya menghadirkan variasi layanan yang tidak hanya berfokus pada makanan, tetapi juga pengalaman yang dirasakan pengunjung selama berada di lokasi.
Dari sisi fasilitas, Lumira Kafe memiliki kapasitas yang cukup besar dengan daya tampung sekitar 600 tamu. Jumlah tersebut bahkan dapat ditingkatkan hingga mencapai 800 orang apabila digunakan untuk kegiatan berskala besar. Kapasitas tersebut membuka peluang bagi penyelenggaraan berbagai acara seperti pertemuan keluarga, gathering komunitas, kegiatan perusahaan, hingga berbagai acara lainnya yang membutuhkan ruang dengan jumlah peserta yang cukup banyak.
Untuk meningkatkan jumlah kunjungan, manajemen juga aktif melakukan promosi melalui berbagai platform media sosial. Sejumlah paket khusus turut dipersiapkan menjelang musim liburan sekolah yang biasanya menjadi salah satu periode dengan tingkat kunjungan wisatawan yang meningkat.
Segmen keluarga dan pelajar diperkirakan dapat memberikan kontribusi sekitar 20 hingga 25 persen terhadap target pasar selama periode liburan berlangsung. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan jumlah kunjungan sekaligus memperkuat posisi Lumira sebagai salah satu alternatif destinasi kuliner di kawasan Kedonganan.
Kehadiran Lumira Kafe mendapatkan apresiasi dari Camat Kuta, D Ngurah Bhayudewa. Ia menilai konsep yang dikembangkan sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.
Menurutnya, keberhasilan sektor pariwisata tidak hanya diukur dari tingginya jumlah wisatawan yang datang, tetapi juga dari sejauh mana manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat lokal.
Ia berharap keberadaan Lumira mampu menjadi sarana pemberdayaan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan keterampilan sumber daya manusia, serta penguatan sektor ekonomi berbasis masyarakat.
Selain itu, Bhayudewa juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan sebagai faktor utama dalam mendukung keberlanjutan sektor pariwisata. Lingkungan yang bersih dan nyaman dinilai menjadi salah satu aspek penting yang dapat meningkatkan kepuasan wisatawan selama berkunjung.
Sekretaris Kelompok Lumira Kafe, Made Wirawan, optimistis konsep mix dining mampu menjadi daya tarik baru yang memperkaya pilihan wisata kuliner di Kedonganan.
Menurutnya, inovasi menjadi faktor penting agar usaha kuliner tetap mampu berkembang di tengah persaingan industri pariwisata yang semakin dinamis. Dengan menawarkan konsep yang berbeda, Lumira berharap dapat menjangkau lebih banyak wisatawan dengan kebutuhan dan preferensi yang beragam.
Ia juga menegaskan bahwa manfaat ekonomi yang dihasilkan dari pengelolaan usaha tersebut pada akhirnya akan kembali kepada masyarakat. Hal itu karena seluruh aset yang dikelola merupakan bagian dari aset desa adat.
Pendapatan yang diperoleh tidak hanya memberikan manfaat bagi pengelola, tetapi juga berkontribusi terhadap kegiatan banjar, program sosial masyarakat, kegiatan adat, serta berbagai bentuk pembangunan yang mendukung kesejahteraan warga. (SSB)


