MANGUPURA – sightseeingbali.id
Desa Bongkasa Pertiwi di Kabupaten Badung terus menunjukkan potensi sebagai desa wisata yang mengandalkan kekayaan alam dan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan pariwisata. Berbagai atraksi wisata yang tersedia menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin menikmati pengalaman liburan dengan suasana pedesaan khas Bali.
Keunggulan desa ini tidak hanya terletak pada bentang alamnya, tetapi juga keberagaman aktivitas wisata yang dapat dinikmati. Mulai dari arung jeram di Sungai Ayung, jalur bersepeda, wahana ATV, jungle swing, paintball, hingga hamparan persawahan yang masih terjaga menjadi bagian dari paket wisata yang ditawarkan kepada pengunjung.
Potensi tersebut terus dimaksimalkan melalui pengelolaan yang melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bersama sejumlah pelaku usaha pariwisata. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperluas pilihan aktivitas wisata sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat desa.
Ketua Pengelola Desa Wisata Bongkasa Pertiwi, I Gusti Agung Gede Brata Swabawa, menjelaskan bahwa sebagian besar atraksi wisata saat ini masih dikelola pihak swasta. Karena itu, pengelola desa membangun kerja sama melalui penyusunan paket wisata terpadu yang menggabungkan beberapa destinasi dan aktivitas dalam satu layanan.
Saat ini terdapat sekitar enam hingga tujuh lokasi wisata yang telah masuk dalam skema kerja sama tersebut. “Salah satunya adalah kolaborasi dengan Pertiwi Adventure yang menghadirkan pilihan wisata rafting, ATV, hingga paintball dalam satu rangkaian aktivitas bagi wisatawan,” katanya.
Di sisi lain, desa juga mulai mengembangkan destinasi yang sepenuhnya berada di bawah pengelolaan desa. Pada tahun 2026, pengelola tengah mempersiapkan Taman Tirta sebagai objek wisata baru yang diharapkan menjadi identitas sekaligus ikon Desa Wisata Bongkasa Pertiwi. “Kawasan ini nantinya akan dilengkapi berbagai spot foto untuk memberikan pengalaman tambahan bagi pengunjung,” terangnya.
Pengembangan tersebut dilakukan sebagai langkah memperkuat aset wisata milik desa sehingga manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat setempat. Selain menghadirkan destinasi baru, pengelola juga mendorong wisatawan agar tidak hanya berkunjung dalam waktu singkat, tetapi memilih menginap sehingga aktivitas ekonomi masyarakat semakin meningkat.
Konsep homestay berbasis rumah warga menjadi salah satu strategi yang diterapkan. Hunian yang disediakan tetap mempertahankan nuansa tradisional Bali dengan penyesuaian fasilitas agar sesuai kebutuhan wisatawan. “Selain homestay, pilihan akomodasi lain seperti vila juga tersedia bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana pedesaan lebih lama,” ucapnya.
Untuk menjaga kualitas layanan, pengelola rutin menjalani evaluasi bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Badung. Penilaian dilakukan terhadap pengelolaan destinasi, kualitas sumber daya manusia, hingga penerapan standar operasional. “Pemandu wisata telah dibekali sertifikasi, sementara homestay dan fasilitas pendukung juga mengikuti standar pelayanan yang telah ditetapkan,” bebernya.
Pengelola desa juga menerapkan kode etik pariwisata sebagai pedoman bagi penyedia akomodasi maupun wisatawan agar aktivitas pariwisata tetap berjalan selaras dengan kehidupan masyarakat setempat. Selain pengembangan destinasi, peningkatan akses infrastruktur juga menjadi perhatian.
Pemerintah desa kata dia, juga mengusulkan pembangunan jalan dan jembatan yang menghubungkan Desa Bongkasa Pertiwi dengan kawasan Ubud, Gianyar. Kehadiran akses tersebut diharapkan mampu mempercepat mobilitas wisatawan, memperkuat konektivitas antardestinasi wisata, sekaligus mendukung pengembangan potensi Desa Bongkasa Pertiwi sebagai salah satu tujuan wisata berbasis alam di Bali. (SSB)


