News

Rare Angon Festival 2026 Jadi Wadah Pelestarian Budaya Bali, Ribuan Layang-Layang Hiasi Langit Sanur

DENPASAR – sightseeingbali.id

Langit Pantai Mertasari, Sanur, kembali dipenuhi warna-warni layang-layang dalam penyelenggaraan Rare Angon Festival 2026. Festival yang telah menjadi salah satu agenda budaya tahunan di Bali ini berlangsung selama empat hari, mulai 23 hingga 26 Juli 2026, dengan menghadirkan peserta dari berbagai daerah di Indonesia hingga puluhan negara.

Lebih dari sekadar festival layang-layang, kegiatan ini menjadi ruang untuk menjaga keberlangsungan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Bali. Melalui berbagai atraksi, perlombaan, hingga pertemuan komunitas internasional, Rare Angon Festival memperlihatkan bahwa budaya lokal tetap mampu berkembang tanpa kehilangan identitasnya.

Sejak hari pertama pelaksanaan, kawasan Pantai Mertasari dipadati peserta dan pengunjung yang menyaksikan penerbangan aneka layang-layang. Peserta dari luar negeri langsung mengawali sesi penerbangan sejak pembukaan acara hingga sore hari, menciptakan pemandangan yang menjadi daya tarik tersendiri di kawasan pesisir Sanur.

Rare Angon Festival 2026 tidak hanya difokuskan sebagai ajang kompetisi, tetapi juga menjadi media pelestarian budaya yang mempertemukan berbagai tradisi melalui seni layang-layang yang telah lama melekat dalam kehidupan masyarakat Bali.

Ketua Rare Angon Festival 2026, Gede Eka Suryawirawan, menjelaskan bahwa agenda penerbangan layang-layang internasional masih berlanjut pada hari kedua penyelenggaraan. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung mulai pukul 10.00 WITA hingga 17.00 WITA sebelum dilanjutkan dengan pertunjukan terbang malam.

Menurutnya, atraksi malam akan kembali menjadi salah satu daya tarik utama karena dipadukan dengan penampilan musik secara langsung dari sejumlah grup musik yang selama ini terlibat dalam berbagai penyelenggaraan Rare Angon Festival.

“Atraksi malam tersebut akan semakin meriah dengan penampilan musik secara langsung dari sejumlah grup musik yang selama ini telah menjalin kolaborasi dalam berbagai penyelenggaraan Rare Angon Festival,” katanya.

Memasuki hari ketiga pada 25 Juli 2026, rangkaian acara difokuskan pada perlombaan layang-layang tradisional kategori komposisi yang dipusatkan di area utama Pantai Mertasari. Pada waktu yang sama, peserta internasional tetap menggelar sesi penerbangan di kawasan Muntig Siokan mulai pagi hingga sore hari.

Setelah seluruh perlombaan layang-layang tradisional selesai, seluruh peserta internasional kembali menuju lokasi utama untuk mengikuti pertunjukan terbang malam yang menjadi bagian dari agenda festival setiap harinya. Rangkaian kegiatan tersebut juga berlanjut hingga akhir pekan sehingga masyarakat memiliki kesempatan menikmati pertunjukan layang-layang baik pada siang maupun malam hari.

Keberadaan layang-layang tradisional tetap menjadi identitas utama Rare Angon Festival. Namun, penyelenggara juga menghadirkan berbagai jenis layang-layang modern sebagai bagian dari perkembangan seni dan olahraga layang-layang di tingkat internasional. Salah satu yang menarik perhatian pengunjung adalah penampilan sport kite dan revolution kite. Kedua jenis layang-layang tersebut memiliki kemampuan bermanuver dengan tingkat presisi tinggi karena dikendalikan menggunakan beberapa tali khusus.

Menurut Gede Eka Suryawirawan, sistem kendali pada layang-layang tersebut memungkinkan pemain mengatur arah terbang dengan lebih akurat. Cara mengoperasikannya bahkan disebut menyerupai penggunaan remote, meskipun seluruh kendali tetap dilakukan melalui tali.

Kehadiran berbagai jenis layang-layang tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda Bali, bahwa perkembangan teknologi dan kreativitas dalam dunia layang-layang dapat berjalan berdampingan dengan upaya mempertahankan tradisi yang telah diwariskan sejak lama.

Festival ini juga menjadi sarana memperkenalkan budaya Bali kepada masyarakat dunia. Kehadiran peserta internasional bersama komunitas layang-layang dari berbagai daerah menunjukkan bahwa tradisi lokal mampu menjadi jembatan pertukaran budaya lintas negara.

Salah satu atraksi yang mencuri perhatian tahun ini adalah penampilan Iconic Bali, layang-layang raksasa yang dibawa komunitas layang-layang asal Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Layang-layang tersebut memiliki panjang sekitar 25 meter dengan bentang kurang lebih 20 meter sehingga menjadi salah satu objek yang paling banyak disaksikan pengunjung.

Dari sisi partisipasi internasional, Rare Angon Festival 2026 diikuti oleh 23 negara dengan jumlah peserta mencapai 105 orang. Sementara itu, komunitas lokal dari berbagai wilayah di Bali menghadirkan sekitar 1.000 layang-layang yang turut memeriahkan festival.

Tidak hanya Bali, sejumlah komunitas dari berbagai daerah di Indonesia juga ikut ambil bagian, di antaranya berasal dari Sleman, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Sulawesi, hingga sejumlah wilayah lainnya. Besarnya partisipasi tersebut menunjukkan bahwa Rare Angon Festival terus berkembang sebagai ajang budaya yang mampu menyatukan komunitas layang-layang dari berbagai daerah maupun negara.

Pelestarian budaya dalam festival ini juga diwujudkan melalui penampilan berbagai kesenian khas Bali. Pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan Beleganjur sebagai bagian dari warisan seni musik tradisional Bali, sekaligus lomba pindekan yang turut mempertahankan tradisi lokal agar tetap dikenal oleh masyarakat.

Penyelenggaraan Rare Angon Festival 2026 juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk sektor swasta yang ikut berkolaborasi dalam mendukung keberlangsungan kegiatan budaya tersebut. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk menjaga eksistensi seni dan tradisi Bali melalui festival yang telah berlangsung secara rutin setiap tahun.

Kolaborasi antara penyelenggara, komunitas, pemerintah, dan berbagai pihak pendukung diharapkan terus memperkuat upaya pelestarian budaya Bali. Melalui festival ini, tradisi layang-layang tidak hanya tetap hidup di tengah masyarakat, tetapi juga semakin dikenal oleh wisatawan dan peserta internasional yang hadir setiap tahunnya sebagai salah satu kekayaan budaya Pulau Dewata. (SSB)

 

Anda Juga Menyukai

News

Lonjakan Penumpang di Bandara Ngurah Rai, Sinyal Kebangkitan Pariwisata Bali

MANGUPURA – sightseeingbali.id Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai – Bali, mencatatkan sebanyak 12.522.400 penumpang domestik maupun internasional selama tahun
News

Imigrasi Ngurah Rai, Buka Layanan Paspor Akhir Pekan dan Eazy Passport

MANGUPURA – sightseeingbali.id Layanan Paspor Simpatik dan Eazy Passport khusus kelompok rentan, kembali digulirkan Direktorat Jenderal Imigrasi (Ditjen Imigrasi). Kegiatan
Translate »