TABANAN – sightseeingbali.id
Kupu-kupu merupakan penyerbuk alami yang esensial sekaligus indikator ekosistem yang sehat. Meski rapuh dan hanya hidup 5–14 hari pada fase dewasa, keberadaan mereka membawa dampak ekologis besar untuk menjaga ribuan tanaman berbunga, memperkuat rantai makanan, dan penanda bahwa habitat sekitar seimbang dan tangguh. Aktivitas mereka menegaskan bahwa kondisi lingkungan Nuanu merupakan habitat yang sehat bagi berbagai macam makhluk.
Sebagai wujud nyata komitmen untuk memulihkan dan menghidupkan kembali habitat alami, Nuanu Creative City melepasliarkan ribuan kupu-kupu ke alam. Upaya ini menandai tonggak penting dalam perjalanan ekologisnya dengan pelepasliaran ribuan kupu-kupu dari 11 spesies asli Bali ke dalam lanskap berkelanjutan yang sedang dikembangkan.
Pelepasliaran ini telah dilakukan sejak bulan Juli hingga Agustus, dan puncak pelepasan dilakukan pada 24 Agustus dengan total 3.500 ekor kupu-kupu. Sehingga selama dua bulan tersebut total lebih dari 5.000 kupu-kupu telah dilepasliarkan.
Seluruh kupu-kupu yang dilepasliarkan ini merupakan spesies asli Bali, termasuk Danaus chrysippus (Plain Tiger), Cethosia hypsea (Malayan Lacewing), dan Papilio peranthus (Swift Peacock Swallowtail). Di antara ketiganya, Papilio peranthus menjadi spesies ikonik Nuanu, kupu-kupu pesisir yang telah lama hidup di kawasan ini.
Lev Kroll, CEO Nuanu Creative City mengungkapkan, sejak awal, Nuanu telah aktif mendukung siklus hidup kupu-kupu dengan melakukan pelepasliaran secara berkala di berbagai area. Hingga kini, sudah lebih dari 11.000 kupu-kupu yang dilepasliarkan, menjadikan pelepasliaran hari ini sebagai yang terbesar dalam sejarah Nuanu. “Kupu-kupu bukan hanya hewan yang indah, tetapi juga berperan sebagai indikator alam kesehatan ekosistem,” ujar Lev Kroll.

Menurutnya, kupu-kupu tidak seharusnya sekadar terlihat dalam buku atau terpajang di balik kaca. Harusnya mereka dapat terbang bebas, hadir di sekitar kita, dan mudah ditemukan oleh pengunjung, warga, serta karyawan yang bekerja dalam Nuanu. “Komitmen kami pun tidak berhenti pada kupu-kupu. Bersama para ahli serangga kami, Nuanu juga melakukan repopulasi kunang-kunang, capung, plankton, serta makhluk kecil lain yang berperan penting dalam menjaga alam dan membuat Bali semakin indah,” ucapnya.
Head of Environment Nuanu Creative City, Agastya Yatra, mengungkapkan, misi utama tim lingkungan Nuanu adalah memulihkan habitat bagi para pahlawan kecil ini dan menciptakan ekosistem yang mampu beregenerasi dengan sendirinya di dalam Nuanu. “Pelepasan 3.500 kupu-kupu ini bukan sekadar simbol, ini menunjukkan kesiapan kami sebagai kawasan kreatif untuk menjadi rumah bagi mereka. Dalam beberapa tahun ke depan, kami berharap kupu-kupu dapat berkembang biak dengan minim intervensi manusia, hidup dan terbang bebas secara alami di seluruh kawasan Nuanu,” ucapnya.
Nuanu kata dia, berkomitmen memulihkan habitat asli sekaligus menghadirkan kesempatan langka bagi masyarakat untuk merasakan kedekatan dengan alam, ketika ribuan kupu-kupu beterbangan di area taman. Tumbuhan inang dan beragam spesies bunga yang ditanam dengan cermat menjadi sumber makanan alami, sehingga pelepasliaran ini bukan hanya sebuah perayaan, melainkan langkah nyata untuk mendukung reproduksi dan keberlanjutan siklus ekologis yang sehat.
“Ke depannya, Nuanu akan terus memperluas program pendidikan lingkungan, menjadikan kawasan ini sebagai ruang belajar hidup yang menghubungkan manusia dengan alam sekaligus memperjuangkan ekosistem yang mampu meregenerasi dirinya sendiri,” katanya.
Sebagai informasi, Nuanu merupakan kawasan kreatif seluas 44 hektar di Bali, Indonesia, yang mewujudkan komitmen untuk hidup harmonis. Komunitas dinamis dari para kreator, pemimpin, dan agen perubahan diberdayakan untuk menumbuhkan budaya perubahan positif. Dirancang sebagai ekosistem yang terintegrasi, kawasan ini memiliki ruang-ruang khusus untuk pendidikan, seni & budaya, kebugaran, hiburan, dan kehidupan yang terinspirasi oleh alam, dengan visi untuk masa depan di mana elemen-elemen ini berpadu secara harmonis. (SSB)