MANGUPURA – sightseeingbali.id
Sebanyak 15 ogoh-ogoh karya Sekaa Teruna dari wilayah Kuta Selatan, Kabupaten Badung, tampil memeriahkan Festival Ogoh-ogoh 2026 yang digelar di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park, Minggu, 22 Maret 2026. Karya-karya yang ditampilkan tidak hanya menghadirkan visual yang menarik, tetapi juga mengangkat berbagai tema yang mencerminkan kreativitas generasi muda dalam melestarikan tradisi Bali.
Menurut Operation Director, Ch. Rossie Andriani, Festival Ogoh-ogoh GWK 2026, tidak sekadar menjadi hiburan semata, tetapi juga menjadi wadah apresiasi bagi Sekaa Teruna yang telah berupaya menghadirkan karya terbaik mereka. “Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong generasi muda untuk terus aktif menjaga dan mengembangkan budaya Bali,” katanyai didampingi General Manager Marketing Communication & Event GWK Cultural Park, Andre Prawiradisastra, dan dewan juri Anak Agung Gede Agung Rahma Putra pada konferensi pers sebelum festival dimulai, Minggu 22 Maret 2026.
Lebih lanjut kata dia, Festival yang memasuki penyelenggaraan ke-6 ini sejalan dengan komitmen GWK sebagai pusat kebudayaan. Melalui ajang ini, budaya Bali diharapkan semakin dikenal luas, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di mata dunia, terlebih dengan kehadiran wisatawan mancanegara.
Selain itu, penyelenggaraan festival ini juga bertepatan dengan momen meningkatnya kunjungan wisata, sehingga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya lokal kepada pengunjung. Ogoh-ogoh yang ditampilkan pun menjadi media edukasi sekaligus hiburan yang sarat makna.
Jumlah peserta pada tahun ini mengalami peningkatan signifikan.
General Manager Marketing Communication & Event GWK Cultural Park, Andre Prawiradisastra, mengatakan, tercatat sebanyak 33 Sekaa Teruna mendaftar, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang hanya diikuti 13 peserta. Setelah melalui proses seleksi, 15 peserta terbaik akhirnya terpilih untuk tampil pada puncak acara.
“Tingginya minat peserta menunjukkan bahwa festival ini semakin dikenal dan diminati oleh generasi muda”
Antusiasme tersebut juga terlihat sejak awal pembukaan pendaftaran yang langsung disambut oleh berbagai kelompok pemuda dari desa-desa di Kuta Selatan.
Meski demikian, tidak semua peserta dapat tampil karena keterbatasan waktu dan lokasi. Oleh sebab itu, proses kurasi dilakukan untuk memastikan hanya karya terbaik yang ditampilkan kepada publik.
Ke depan, penyelenggara berharap cakupan peserta tidak hanya terbatas di Kuta Selatan, tetapi bisa diperluas hingga seluruh wilayah Bali, sehingga semakin banyak kreativitas yang bisa ditampilkan dalam festival ini.
Dalam satu tahun, GWK diketahui rutin menggelar empat festival besar, terdiri dari dua festival budaya dan dua festival musik. Festival Ogoh-ogoh menjadi salah satu agenda budaya yang digelar pada awal tahun 2026.
Ajang ini juga memberikan kesempatan bagi masyarakat Bali untuk menikmati suasana GWK dengan harga khusus bagi pemegang KTP Bali. Selain itu, festival ini menjadi alternatif bagi masyarakat yang tidak sempat menyaksikan parade ogoh-ogoh saat malam pengerupukan menjelang Hari Raya Nyepi.
Dari sisi penilaian, dewan juri menyoroti perkembangan seni ogoh-ogoh yang semakin inovatif. Generasi muda dinilai mampu menggabungkan unsur tradisional dengan sentuhan modern, termasuk pemanfaatan teknologi dalam proses pembuatannya.
Penilaian lomba mencakup beberapa aspek utama, seperti ide dan konsep, teknik pengerjaan yang sesuai tema, penggunaan bahan yang ramah lingkungan, serta tingkat orisinalitas karya. Kreativitas dan keselarasan penampilan juga menjadi pertimbangan penting.
Rangkaian acara diawali dengan parade ogoh-ogoh yang berlangsung mulai pukul 16.00 Wita. Selanjutnya, para peserta mengikuti penilaian di area Amphitheater dan Mandalaloka GWK pada pukul 19.00 Wita.
Dari total 15 peserta yang tampil, akan dipilih empat pemenang, yaitu juara pertama, kedua, ketiga, serta juara favorit. Para pemenang akan mendapatkan hadiah dengan total puluhan juta rupiah sebagai bentuk apresiasi atas karya dan kreativitas yang ditampilkan. (SSB)


