MANGUPURA – sightseeingbali.id
Pergantian malam tahun baru 2025–2026 di kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park, Bali, menghadirkan nuansa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Destinasi wisata ikonik ini tetap menjadi salah satu pusat perayaan malam tahun baru paling diminati, meski kali ini tanpa dentuman kembang api yang selama ini identik dengan perayaan akbar di kawasan tersebut.
Selama bertahun-tahun, GWK dikenal konsisten mengusung konsep pesta pergantian tahun berskala besar yang selalu ditandai dengan pertunjukan kembang api megah. Bahkan, perayaan malam tahun baru di GWK kerap disejajarkan dengan perayaan di kota-kota besar dunia. Jika Jakarta memiliki Monas dan New York dengan Times Square, maka Bali selama ini identik dengan perayaan tahun baru di GWK Cultural Park.
Identitas tersebut telah melekat kuat dan menjadi ciri khas yang dipertahankan dari tahun ke tahun. Tak heran, setiap menjelang akhir tahun, ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara menjadikan GWK sebagai tujuan utama untuk menyambut pergantian tahun dengan suasana meriah dan berbeda.
Memasuki penyelenggaraan tahun kelima, GWK Bali Countdown 2026, pihak pengelola sebenarnya telah menyiapkan konsep The Biggest Fireworks dengan sentuhan yang lebih modern dan segar. Namun, rencana tersebut harus disesuaikan menyusul adanya imbauan pemerintah yang meminta agar perayaan malam tahun baru tahun ini meniadakan penggunaan kembang api.
Sebagai pengelola destinasi wisata nasional, manajemen GWK menegaskan komitmennya untuk mematuhi kebijakan dan aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Keputusan meniadakan kembang api pun diambil meskipun disadari berpotensi menimbulkan kekecewaan di kalangan pengunjung yang telah menantikan atraksi tersebut.
Division Head Marketing Communication and Partnership Garuda Wisnu Kencana Cultural Park Bali, Andre Prawiradisastra, menyampaikan bahwa keputusan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab pengelola untuk tetap mendukung kebijakan pemerintah sekaligus menjaga ketertiban dan keamanan selama perayaan berlangsung.
“Sebagai pengelola, kami wajib mengikuti arahan yang berlaku. Walaupun ada rasa kecewa dari sebagian pengunjung, kami tetap harus mengambil langkah ini,” ujar Andre saat ditemui di GWK Cultural Park, Rabu, 31 Desember 2025.
Meski tanpa kembang api, GWK tidak serta-merta menghilangkan daya tarik utama perayaan malam tahun baru. Sebagai pengganti, pihak pengelola menghadirkan musical laser show atau pertunjukan laser musikal yang dirancang khusus untuk memberikan pengalaman visual berbeda bagi para pengunjung.
Pertunjukan laser musikal ini memadukan permainan cahaya laser dengan iringan musik, menciptakan suasana perayaan yang tetap meriah dan penuh warna. Visual laser diproyeksikan secara artistik di area utama, menghadirkan sensasi futuristik yang jarang ditemui dalam perayaan tahun baru di Bali.
Andre menjelaskan bahwa konsep ini dipilih agar pengunjung tetap mendapatkan pengalaman berkesan meskipun tanpa kembang api. Menurutnya, musical laser show juga memberikan alternatif hiburan yang lebih ramah lingkungan dan sesuai dengan kebijakan yang berlaku.
Perubahan konsep perayaan ini sempat menuai beragam respons dari pengunjung. Beberapa di antaranya menyampaikan kekecewaan, terutama mereka yang telah membeli tiket dengan ekspektasi menyaksikan pertunjukan kembang api seperti tahun-tahun sebelumnya. Keluhan tersebut juga sempat ramai disuarakan melalui media sosial.
Namun demikian, pihak pengelola menilai bahwa secara umum pengunjung dapat memahami situasi yang terjadi. Penjelasan mengenai kebijakan pemerintah dan konsep pengganti yang disiapkan membuat sebagian besar pengunjung tetap memutuskan untuk hadir dan menikmati rangkaian acara malam tahun baru di GWK.
Dalam pelaksanaannya, perhatian pengunjung justru tertuju pada pertunjukan laser musikal yang ditampilkan menjelang detik-detik pergantian tahun. Atraksi ini menjadi magnet baru dan menghadirkan suasana yang berbeda, sekaligus menjadi momen reflektif ketika seluruh penonton diajak menundukkan kepala dan berdoa bersama untuk Indonesia.
Meskipun konsep perayaan mengalami perubahan signifikan, antusiasme masyarakat untuk merayakan malam tahun baru di GWK tetap terjaga. Sejak malam sebelumnya, penjualan tiket tercatat telah melampaui angka 8.000 lembar dan masih terus bertambah hingga hari pelaksanaan.
Pihak pengelola sebelumnya menargetkan penjualan tiket dapat mencapai sekitar 10.000 lembar per hari pada puncak perayaan. Dari pantauan di lapangan, sejumlah area utama di GWK Cultural Park tampak dipadati pengunjung yang datang bersama keluarga maupun rekan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketiadaan kembang api tidak memberikan dampak signifikan terhadap minat masyarakat. Jumlah pengunjung terus meningkat seiring mendekatnya malam pergantian tahun, menandakan bahwa GWK tetap menjadi pilihan utama untuk merayakan momen tersebut.
Terkait kebijakan tiket, pihak GWK menegaskan bahwa sejak awal telah diinformasikan bahwa tiket yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan atau direfund. Kebijakan ini sempat memicu permintaan pengembalian dana dari sejumlah pengunjung yang merasa kecewa atas ditiadakannya kembang api.
Namun, setelah mendapatkan penjelasan secara langsung, sebagian besar pengunjung akhirnya memahami kondisi yang ada dan tetap memilih untuk datang. Pihak pengelola berharap suasana perayaan tetap berlangsung aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh pengunjung.
Dengan perubahan atraksi utama dari fireworks menjadi musical laser show, GWK menghadirkan warna baru dalam perayaan malam tahun baru di Bali. Pertunjukan laser musikal ini sekaligus menandai babak baru dalam konsep perayaan yang lebih adaptif, tanpa mengurangi esensi kemeriahan pergantian tahun. (SSB)

